"Sudah setahun, ya, Kikyo..." lirih Inuyasha--makhluk setengah iblis-setengah manusia berambut perak. Ia duduk bersimpuh di depan sebuah makam. Di tangannya tergenggam sebuah bunga. Bunga lili putih, bunga kesukaan gadis yang kini sedang terbaring di dalam tanah yang dingin di hadapannya.
Setetes air mata jatuh ke kelopak bunga lili itu. Mata keemasan Inuyasha menutup sejenak. Cahaya kemerahan di ujung langit menjadi latar. Rerumputan yang basah menjadi saksi bisu. Awan yang berarak melihat semuanya. Beberapa surai perak yang menghiasi kepalanya kini terjurai indah di bahunya. Di bahunya yang bergetar.
"Aku masih mencintaimu setelah setahun ini... tak bisa bersamamu. Bahkan setelah ada Kagome. Apa yang harus kulakukan, Kikyo?" lirih Inuyasha lagi. Ia letakkan setangkai bunga lili putih itu di makam pualam di hadapannya. Makam yang ia buat sendiri, dengan penuh rasa kasih... juga keputusasaan.
Halus, sehalus rambut hitam Kikyo yang bagaikan sutra. Makam pualam itu halus. Tapi dingin. Sedingin hati Inuyasha saat ini. Inuyasha hanya dapat mengingat samar apa yang terjadi hari ini, karena yang dipikirkannya hanya wajah cantik Kikyo. Rambut hitam panjangnya... Mata cokelatnya... Kulit putihnya... Semua tentang Kikyo selalu membuatnya bahagia... tapi juga sedih. Apalagi setelah...
"Setahun sudah setelah kematianmu, Kikyo. Dan sepertinya... waktuku juga hampir tiba..." lirih Inuyasha. Ia tidak berbohong. Waktunya menyusul Kikyo memang sudah dekat. Ia sengaja melakukannya. Ia sengaja melukai dirinya sendiri dengan racun, dan akhirnya inilah saatnya. Ia rela meninggalkan Kagome, istrinya, dan Sango dan Miroku juga Sesshomaru dan semua teman-temannya demi mengejar cinta pertamanya. Ini semua demimu, Kikyo...
Perlahan, kematian merambati Inuyasha. Tapi ia tidak merasa sakit. Karena di hadapannya, kini, berdiri seseorang yang ia nantikan selama ini...
"Inuyasha, ikimashou..." bisik Kikyo. Ia mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Senyum terindah yang pernah dilihat Inuyasha. Ia menyambut uluran tangan itu dengan bahagia. Hingga akhirnya, seluruh jiwanya terlepas dari tubuhnya untuk selama-lamanya.
Kini, semuanya sudah berakhir. Inuyasha dan Kikyo telah bersatu kembali, seperti yang telah dituliskan oleh takdir. Inuyasha akan menghabiskan kehidupannya yang tak lagi fana bersama Kikyo. Mungkin ia bodoh telah melepaskan kehidupan bahagianya, tapi... ia lebih bodoh lagi jika ia melepaskan gadis yang paling ia cintai di dunia. Jadi, Inuyasha memilih pergi. Memulai semuanya dari awal lagi.
"Terima kasih, Inuyasha. Lili putihnya cantik," kata Kikyo.
"Sepertimu, Kikyo," balas Inuyasha sambil tersenyum.
Kini yang tersisa hanya bunga itu. Ketika akhirnya Kagome menyadari surat peninggalan Inuyasha yang terlambat. Ketika akhirnya Sango dan Miroku mengetahuinya dari tangisan Kagome. Ketika mereka akan menemukan tubuh dingin tak bernyawa Inuyasha di hadapan makam Kikyo. Hanya setangkai bunga itu yang tersisa dari Inuyasha. Bunga indah yang Inuyasha bawa untuk gadisnya tercinta. Hanya setangkai bunga kesukaannya. Setangkai... lili putih...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar