Translate

Jumat, 10 Agustus 2012

Please Be With Me, Even If It's Just A Minute

~Please Be With Me, Even If It's Just A Minute~

Namida Yoshihiko. Itulah nama gadis itu. Umurnya baru 15 tahun. Ia adalah seorang pelajar SMA dan seorang miko--gadis penjaga kuil--di kuil Hoshimigi di desa terpencil di Kyoto, Jepang. Parasnya cantik, dengan rambut dark chocolate, mata hazel, dan kulit seputih susu. Ia yatim-piatu, tidak memiliki saudara. Selama ini, ia hanya tinggal bersama Kiyoji Sumimura, seorang kakek yang menjaga kuil bersamanya.

Namida, artinya air mata. Kiyo-jii, panggilan Namida untuk Kiyoji, mengatakan bahwa seorang wanita pernah datang ke kuil ini sambil menggendong bayi. Ia hanya mengatakan namanya: Kikyo Yoshihiko. Ia berpesan untuk menamai sang bayi Namida. Setelah mengatakan itu, wanita itu pergi dan tidak pernah kembali. Menurut Kiyo-jii, wanita itu menamai anaknya Namida agar ia senantiasa menjadi sebening dan sesuci air mata. Agar Namida dapat menjadi penghapus lara dan menjadi gadis yang ceria.

Namun kenyataannya tidak begitu. Sejak kecil, Namida begitu kesepian. Ia tidak memiliki teman. Sehari-harinya hanya dihabiskan di kuil, bermain dan berdoa. Ia bersekolah, memang, namun ada suatu halangan yang membuatnya tak bisa berteman dengan yang lain. Dan masa-masa itu merupakan masa-masa paling sulit bagi Namida.

Tapi, sejak setahun lalu, keadaannya berubah. Namida sekarang sudah memiliki seorang teman. Bukan hanya seorang teman, tapi juga seseorang yang mampu menghiburnya di saat-saat kesepian. Mampu menghapus air mata dan membawa senyum ke wajah Namida. Dialah kekasih Namida, Aoi Katsuragi. Aoi adalah laki-laki tampan. Rambutnya berwarna dark blue--seperti namanya, dan matanya berwarna cokelat. Tidak sedikit gadis yang mengantre ingin mendapatkan cintanya. Tapi, pilihannya jatuh pada Namida, gadis miko pendiam yang cantik namun misterius. Aoi sangat mencintai Namida, karena Namida-lah cinta pertama Aoi. Hati dinginnya berhasil ditaklukkan Namida. Begitu pula Namida. Ia sangat mencintai Aoi. Ia pikir, tak ada kekasih lain yang mencintai pasangannya sebesar ia mencintai Aoi.

Tapi, ada yang salah akhir-akhir ini. Namida kembali menangis. Ya, kali ini karena Aoi sendiri. Sudah tiga bulan sejak Aoi menjadi Ketua OSIS di sekolahnya, dan pastinya itu membuat Aoi super sibuk. Awalnya, Namida bisa mengerti. Tapi, kali ini semakin menjadi-jadi. Aoi yang biasanya setiap sore mengunjunginya dan membantu pekerjaannya di kuil, kini hanya datang di hari Minggu. Itupun hanya sebentar untuk duduk, berdoa, berbasa-basi sedikit dengan Namida, lalu pulang. Alasannya sama, sibuk. Tugas OSIS, rapat, dokumen, dan hal-hal lain yang harus Aoi tangani. Namida sebenarnya sedih dan kesal, tapi ia selalu menyembunyikannya di balik senyuman palsunya.

Tapi kini, semuanya sudah tak bisa ditoleransi. Sejak dua minggu terakhir, bukan hanya Aoi tidak pernah mengunjunginya di kuil, tapi ia juga bersikap acuh pada Namida di sekolah. Ia tidak menyapa Namida saat mereka berpapasan, tidak lagi duduk dan mengobrol bersama setiap istirahat, bahkan ia tidak lagi ada di sisi Namida jika Namida membutuhkannya. Semua ini sudah membuat Namida gila!

Dan puncaknya adalah kemarin. Kejadiannya di ruang OSIS, setelah rapat selesai. Namida menunggu hingga dua jam sampai rapat selesai, hanya untuk pulang bersama Aoi.

"Aoi-kun..." panggil Namida pelan. Ia tidak mau mengganggu pacarnya ini.

"Hm?" kata Aoi tanpa mengalihkan perhatian dari dokumen yang sedang ditekuninya.

"A-ano... Bi-bisakah kau pulang bersamaku? Sudah lama kita tidak pulang bersama," tanya Namida.

"Gomen, aku sibuk." Singkat, padat, jelas, namun dingin dan menyakitkan. Namida sudah menahan air matanya, tapi ia masih ingin mencoba.

"Tapi rapat sudah selesai. Apa Aoi-kun tidak capek?" kata Namida lagi.

Akhirnya Aoi mengangkat wajah dan menatap Namida. "Masih banyak dokumen yang harus kusortir, Namida, dan ini harus selesai besok. Aku tidak ingin diganggu," jelas Aoi. Bagi Namida, itu sudah sangat jelas. Aoi serius kali ini. Ia bahkan tidak memanggilnya dengan suffiks -chan lagi seperti biasanya.

"Aoi-kun..."

"Kumohon, Namida! Aku lelah, dan aku ingin bekerja cepat agar cepat pulang! Kalau kau tidak bisa membantuku, lebih baik kau tidak menggangguku!" seru Aoi dengan nada final. Namida pergi sambil tersenyum pahit, dan berjalan pulang sendiri. Di jalan, ia memikirkan Aoi dan semua sikap ketidakpeduliannya padanya akhir-akhir ini. Dan semua itu berhasil membuatnya menangis lagi. Air mata menetes setitik demi setitik, mengaliri pipinya, dan akhirnya berakhir di tanah tempatnya berpijak. Tapi Namida segera menghapusnya dengan jemari lentiknya. Ia tidak ingin terlihat lemah. Ia tidak mau pikiran-pikiran negatif ini akan membuatnya kehilangan Aoi. Sekarang, ia hanya ingin pulang, berendam, dan melupakan semuanya.

...ooOoo...

Besoknya, Namida masih ingin mencoba kembali memperbaiki hubungannya yang renggang dengan Aoi. Saat sebelum masuk...

"Aoi-kun, kau sudah mengerjakan PR? Ada yang sulit, boleh aku minta bantuanmu?" tanya Namida. Sayang, Aoi hanya berkata, "Maaf, aku harus berkumpul dengan anggota OSIS lain."

Saat istirahat makan siang...

"Aoi-kun, apa kau sudah makan? Aku membuatkan bento untukmu," kata Namida. Tapi lagi-lagi, Aoi hanya menjawab, "Sudah, aku tidak perlu bento-mu."

Dan sekarang di waktu ini, saat pulang sekolah. Namida belum mau menyerah. Ia akan terus mendekati Aoi sampai Aoi setuju bersama-sama dengannya lagi. Kali ini, Aoi sedang ada di depan ruang OSIS, mengobrol dengan seorang laki-laki berkacamata yang memegang setumpuk dokumen. Namida menunggu hingga laki-laki itu pergi dan menepuk punggung Aoi lembut. Ia tersenyum begitu Aoi menoleh.

"Aoi-kun..."

"Aku ada rapat sampai jam lima, Namida. Aku tidak bisa pulang bersamamu. Kau tidak akan mau menungguku tiga jam." Seperti bisa membaca pikiran Namida, Aoi menjawab singkat. Ia mengelus pipi Namida cepat dan melangkah pergi. Namida menatap punggung kekasihnya yang menghilang ditelan pintu dengan tatapan sendu. Dengan cepat, dihapusnya setetes air mata yang menggantung di pelupuk matanya. Ia menatap sekeliling, dan melihat bangku taman di kebun sekolah, yang memang berhadapan dengan ruang OSIS tanpa penghalang apapun. Namida melangkah ke sana dan duduk.

Angin musim gugur sangatlah kencang dan dingin. Namida menyesal ia lupa membawa syal. Dengan merapatkan pelukannya pada tubuhnya sendiri, ia mencoba mengalirkan kehangatan ke tubuhnya yang dingin. Menunggu tiga jam di tengah angin dingin musim gugur untuk pulang bersama sangatlah tidak masuk akal, tapi Namida sudah berniat akan menunggu Aoi, dan pulang bersamanya hari ini!

...ooOoo...

Tiga jam terasa sangat lama bagi Namida. Tubuhnya sudah menggigil kedinginan, dan jari-jarinya sudah menjadi sangat putih. Untunglah akhirnya pintu ruang rapat itu terbuka. Para anggota OSIS keluar sambil meregangkan tubuh, mengobrol, dan lain-lain. Tapi hingga anggota terakhir keluar--Namida hafal jumlah dan wajah semua anggota OSIS karena terlalu sering mengunjungi ruang OSIS--Namida tidak juga melihat Aoi. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk mencari Aoi di ruang OSIS.

Dan tebakannya benar. Aoi ada di situ, tepat di mejanya. Ia sedang menatap dokumennya serius. Tapi ia menoleh begitu Namida berada di sampingnya. Ia menatapnya dan melepas kacamata bacanya, tampak sangat lelah. Ia tersenyum singkat dan memasang tatapan herannya.

"Aku menunggumu. Aku ingin pulang bersama," kata Namida. Aoi masih menatapnya.

"Maaf, Namida. Aku masih punya banyak pekerjaan," jawab Aoi singkat, dan ia kembali membaca dokumennya.

Sedangkan Namida, iaa berdiri dalam ketidakpercayaan. Ia merasa sangat sakit hati kali ini, lebih dari yang pernah dirasakannya sebelumnya. Aoi menjauhinya, itulah kesimpulan satu-satunya. Untuk apa? Untuk putus darinya? Dan kesadaran menyambarnya bagaikan sambaran petir. Namida tidak bisa lagi menahan air matanya, dan akhirnya ia menangis. Suara isakannya membangunkan Aoi dari dunianya. Seperti yang bisa ditebak, Aoi panik melihat kekasihnya menangis. Tapi ia tidak bisa berkata apa-apa. Dan Namida tak memberinya kesempatan untuk berbicara.

"Kenapa kau tidak lagi peduli padaku, Aoi-kun? Apa kau membenciku sekarang? Apa kau ingin putus denganku? Aku tidak meminta lebih, Aoi-kun, hanya... hanya ingin meminta waktumu, walaupun sebentar saja. Kumohon tetaplah bersamaku, walaupun hanya semenit. Kumohon..." lirih Namida sambil terisak. Ia merosot di lantai, dengan tangisan yang sepertinya tak akan berhenti dalam waktu dekat.

Seiring dengan tangisan Namida, Aoi menyadari sesuatu. Permohonan sederhana Namida... yang bahkan tak bisa dipenuhinya. Ia ingin ikut menangis menyadarinya. Namida menangis karenanya, dan itu yang paling menyakitinya. Aoi duduk di lantai agar sejajar dengan Namida, dan dengan gemetar, ia menghapus air mata Namida. Ia mengelus kepala Namida pelan, dan mengangkat dagu Namida hingga mata gadis itu tepat menatap matanya.

"Maaf, Namida. Aku... aku tak bisa menjagamu dengan baik. Aku salah, aku tahu. Aku tidak lagi memperhatikanmu. Dan sekarang, aku membuatmu menangis. Aku minta maaf untuk itu. Tapi, aku... aku masih mencintaimu, Namida. Sekarang dan selamanya. Jadi, jangan tinggalkan aku. Aku salah, dan aku menyadarinya. Mulai sekarang, aku akan tetap berada di sisimu, bukan hanya semenit, tapi selama yang kau mau, selamanya..." kata Aoi. Ia menghapus air mata dari kedua mata Namida dan tersenyum lembut.

Namida menghentikan tangisnya dan menatap Aoi. Ia bisa melihat keseriusan di kedua mata cokelatnya. Namida terdiam, dan tersenyum. Ia tahu Aoi menyesal, dan ia meminta maaf. Semuanya sudah cukup bagi Namida. Ia terlalu mencintai Aoi untuk melepaskannya. Dan Aoi juga demikian.

"Aishiteru..."

Keduanya membisikkan kata magis mereka, dan mereka pun berpelukan. Aoi yang lebih tinggi, meletakkan dagunya di kepala Namida dan mengelus punggung gadisnya lembut. Sementara Namida menyandarkan tubuhnya ke dada Aoi. Mereka saling berbagi kehangatan, dan juga... berbagi cinta mereka. Cinta yang abadi sejak dulu, sekarang, dan selamanya...

~Starting from now, I will be by your side, not just a minute, but as long as you want, forever...~

...ooOoo...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar